17 Agustus 2010 diproklamirkan Proklamasi kemerdekaan Indonesia, 65 Tahun Indonesia ku......”teriakan dengan suara yang sudah ku kenal”.
Hari Rabu sore, Tanggal 18 Agustus 2010, Aksi penculikan Geng Gembul Mblendhung malam itu sangat singkat. Dering suara telepon berantai membuatku merinding untuk menerima nya. "Kriiiing"….waduh gawat kie…”Celetuk ku”, anggkat enggak, angkat, enggak, angkat…pas itungan terakhir kancing bajuku mengatakan Angkat. Duh gusti paringano aku slamet, maksudnya, duh gusti paringano slamet, bukan slamet tetangga desa seberang kali itu,….sambil aku mengangkat telepon. “Halo..”, terdengar suara menggelegar…”Hi Lady Cempluk sudah buka puasa sayang??”,
Woooske, Gembul Mblendung yang telepon aku ternyata, dia ketua geng di desaku, usianya sekitar 31 tahun, orangnya gendut, perutnya Gembul seperti Paman Gembul di komik Bobo, kulitnya sedikit gelap, rambutnya cepak, makanya dia di panggil Gembul Mblendhung, dan tatoan di lengan kanan bergambar Naga. Dia suka menculik gadis-gadis muda, tapi penculikan itu tidak aksi kriminal seperti pada berita-berita tv dan harian surat kabar. Dia menculik gadis-gadis untuk diminta menemani dia makan, nonton bioskop. Dia memang royal, tapi sory kata meski dia sebenarnya baik, kaya raya juragan batik, yang sudah go Internasional hasil produksi batiknya sudah melanglang buana seluruh penjuru Negara di dunia ini. Tetapi sifat anehnya itu yang anarki, suka memaksa gadis-gadis yang harus mau menemaninya saat itu juga, dengan imbalan di belikan apapun yang di inginkan. Kebanyakan para gadis risih dengan dia. Tapi mereka tidak berdaya dan pergi bersama Gembul Mlendhung pada akhirnya.

“Lady Cempluk, kamu sudah makan sayang?” di ulangi pertanyaannya itu padaku itu, dibanding dengan gadis-gadis yang lain Gembul lebih sopan dengan ku, karena dia berkali-kali bilang menyukaiku sepenuh hatinya. Ooh makan?, sudahlah!, sekalian buka puasa bersama temen kantor tadi di warung prapatan selokan mataram Mbul, “jawabku”. Walah ya kalau begitu nemenin aku malam ini ya Pluk, aku lagi butuh teman, gak usah makan cuma nemenin aku saja, kamu pesen minum saja, biar aku yang makan. “Cerocos gembul ngomong tanpa titik koma”. Kebetulan aku lagi tidak lagi mengerjakan apa-apa, aku terima tawaran Gembul Mlendhung.
“Tlululut”..bunyi sms, Aku 1 menit lagi sampai depan rumahmu, “sms Gembul”. Aku keluar rumah, mengunci pintu, dan duduk di teras sambil menunggu Gembul datang.
Malam itu aku menemaninya, selesai makan dia kekenyangan, sambil utak atik lapie kesayangannya. Eh mbul, kamu tuh makan apa makan, perut udah segede gaban juga makannya seabregh ck..ck..ckk? "tanyaku memecahkan keheningan", Hehehhee…biasa kelaparan, "jawab Gembul dengan asal". Gembul mulai bercerita panjang lebar, dan aku mendengarkan tanpa ada cerita yang tertinggal dari pendengaranku. Intinya dia lagi kewalahan menangani bisnisnya yang sudah menyita banyak waktunya. Dan banyak perundingan dengan klien-klien nya, menghasilkan kesepakatan, dimana kesepaktan itu adalah perjanjian yang menjadikan jaminan masa depan dia kelak, Nah intinya, sama-sama mengemban tugas untuk menjaga kesepakatan itu. Berat memang..tapi harus dengan niat yang baik pula akan menghasilkan sesuatu yang baik dan di Ridhai Allah. Amin.
Cerita berlanjut semakin seru.....
To be continued.
*Ceritanya nyambung gak sih?? Ya disambung-sambungin dulu deh, sambil menunggu cerita selanjutnya, Si Ketua Preman Gembul Mlendhung.
Hari Rabu sore, Tanggal 18 Agustus 2010, Aksi penculikan Geng Gembul Mblendhung malam itu sangat singkat. Dering suara telepon berantai membuatku merinding untuk menerima nya. "Kriiiing"….waduh gawat kie…”Celetuk ku”, anggkat enggak, angkat, enggak, angkat…pas itungan terakhir kancing bajuku mengatakan Angkat. Duh gusti paringano aku slamet, maksudnya, duh gusti paringano slamet, bukan slamet tetangga desa seberang kali itu,….sambil aku mengangkat telepon. “Halo..”, terdengar suara menggelegar…”Hi Lady Cempluk sudah buka puasa sayang??”,
Woooske, Gembul Mblendung yang telepon aku ternyata, dia ketua geng di desaku, usianya sekitar 31 tahun, orangnya gendut, perutnya Gembul seperti Paman Gembul di komik Bobo, kulitnya sedikit gelap, rambutnya cepak, makanya dia di panggil Gembul Mblendhung, dan tatoan di lengan kanan bergambar Naga. Dia suka menculik gadis-gadis muda, tapi penculikan itu tidak aksi kriminal seperti pada berita-berita tv dan harian surat kabar. Dia menculik gadis-gadis untuk diminta menemani dia makan, nonton bioskop. Dia memang royal, tapi sory kata meski dia sebenarnya baik, kaya raya juragan batik, yang sudah go Internasional hasil produksi batiknya sudah melanglang buana seluruh penjuru Negara di dunia ini. Tetapi sifat anehnya itu yang anarki, suka memaksa gadis-gadis yang harus mau menemaninya saat itu juga, dengan imbalan di belikan apapun yang di inginkan. Kebanyakan para gadis risih dengan dia. Tapi mereka tidak berdaya dan pergi bersama Gembul Mlendhung pada akhirnya.
“Lady Cempluk, kamu sudah makan sayang?” di ulangi pertanyaannya itu padaku itu, dibanding dengan gadis-gadis yang lain Gembul lebih sopan dengan ku, karena dia berkali-kali bilang menyukaiku sepenuh hatinya. Ooh makan?, sudahlah!, sekalian buka puasa bersama temen kantor tadi di warung prapatan selokan mataram Mbul, “jawabku”. Walah ya kalau begitu nemenin aku malam ini ya Pluk, aku lagi butuh teman, gak usah makan cuma nemenin aku saja, kamu pesen minum saja, biar aku yang makan. “Cerocos gembul ngomong tanpa titik koma”. Kebetulan aku lagi tidak lagi mengerjakan apa-apa, aku terima tawaran Gembul Mlendhung.
“Tlululut”..bunyi sms, Aku 1 menit lagi sampai depan rumahmu, “sms Gembul”. Aku keluar rumah, mengunci pintu, dan duduk di teras sambil menunggu Gembul datang.
Malam itu aku menemaninya, selesai makan dia kekenyangan, sambil utak atik lapie kesayangannya. Eh mbul, kamu tuh makan apa makan, perut udah segede gaban juga makannya seabregh ck..ck..ckk? "tanyaku memecahkan keheningan", Hehehhee…biasa kelaparan, "jawab Gembul dengan asal". Gembul mulai bercerita panjang lebar, dan aku mendengarkan tanpa ada cerita yang tertinggal dari pendengaranku. Intinya dia lagi kewalahan menangani bisnisnya yang sudah menyita banyak waktunya. Dan banyak perundingan dengan klien-klien nya, menghasilkan kesepakatan, dimana kesepaktan itu adalah perjanjian yang menjadikan jaminan masa depan dia kelak, Nah intinya, sama-sama mengemban tugas untuk menjaga kesepakatan itu. Berat memang..tapi harus dengan niat yang baik pula akan menghasilkan sesuatu yang baik dan di Ridhai Allah. Amin.
Cerita berlanjut semakin seru.....
To be continued.
*Ceritanya nyambung gak sih?? Ya disambung-sambungin dulu deh, sambil menunggu cerita selanjutnya, Si Ketua Preman Gembul Mlendhung.
Walahhhh... gak ono klimaks'e..... :D
ReplyDeletehihii..emang belom hahahaa
ReplyDelete