Panggih Temanten / Temu manten.
Touch-up make-up dari riasan akad nikah langsung dirubah dari bentuk alis yang bercabang riasan Paes Ageng dan eyes shadow pun dirubah warna, serta ditarik dua garis dari pangkal mata sebelah kanan kiri panjang ke pelipis, rambut sinom kerikan sewaktu midodareni ditempelin di kening lengkung-lengkung apa namanya lupa, sekarang serba modern jadi tidak menggunakan “pidih” yang dilukis dikening berwarna hitam. Riasan selesai aku ganti pakaian adat jogja Meniran. Pakaian basahan lengkap, ditambah baju beludru warna hitam panjang dengan roncean daun kemuning panjang dibalut di pinggang sepanjang mata kaki, ujung bawah roncean bunga melati dan kanthil. Ditambah juga sabuk Wala dari bahasa Arab, sabuk dari kain batik bagian pinggang belakang tebal seperti bantalan guling bayi, dibalut ke pinggang sampai perut, bagian depan lipitan kain batik panjang se mata kaki juga.
Ternyata riasan sanggul nya berat, roncean sanggul dari daun pandan di tutupi roncean kuncup melati beratnya ada seperempat kilo, masih ada bunga-bunga hiasan di samping sanggul, aksesoris di depan sanggul bagian depan ada 3 macam. Dan dari ujung kepala bawah sanggul dipasang roncean panjang se dada, daun pandan di balut kuncup melati, bunga crisant dan bunga kanthil, ini biasa suka di curi tamu-tamu yang masih lajang biar segera menyusul menikah.
Acara dimulai diawali sungkeman, bedhal kembar mayang (dua sepasang remaja menuju ke tempat peristirahatan temanten pria), dilanjut dengan pasrah sanggan (pisang raja setangkep dan suruh ayu).
Panggih temanten. Dilanjut acara adat kacar kucur (menerima beras, kacang kawak, kedelai kawak ada lagi lupa isinya dari pengantin pria di kucurkan/dituang/diberikan ke pengantin wanita, yang berarti hasil kerja dan tanggung jawab nya sebagai calon kepala rumah tangga untuk menghidupi keluarganya. Lanjut adat krobogan (Pangabekten/sungkeman ke Romo dan Ibu pengantin wanita kemudian lanjut ke Romo Ibu pengantin pria) sambil membawa bungkusan kacar kucur tadi deserahkan ke Ibu pengantin wanita. Lanjut lagi dhahar kembul/pengantin pria dan wanita makan bersama.
Acara adat terakhir Tumplak Punjen. Semua anak putra/putri sarimbit (sepasang suami isteri) sungkem romo ibu, kawiwitan putra pembayun ngantos putro wuragil (dimulai dari putra pertama sampai putra terakhir) kemudian diberikan bungkusan Tumplak Punjen * (diatas), putra/putri menerima semua pemberian dari romo ibu untuk bekal hidupnya nanti, karena sudah menyelesaikan tugasnya sebagai orang tua kepada anak-anak putra putri dengan aman, tentram, sejahtera dan bahagia. [http://lenydewi.multiply.com/journal/item/46/Prosesi_Pernikahan_Adat_Jawa ]
Pukul 12.00 wib Tamu undangan resepsi sebagian sudah datang, aku dipersilahkan berganti pakaian beludru warna merah hati. Cukup dan sangat ribet ternyata dengan pakaian adat dan tata cara adat jawa, itupun sudah dipersingkat ada beberapa cara adat yang tidak dipakai.
Acara berlangsung riuh dengan iringan alunan lagu penyanyi elektone, salaman, senyum meski capek harus kelihatan ceria, foto-foto, tak terasa sampai acara sudah hampir selesai aku tidak minum sama sekali, Cuma makan sesuap dan minum setengguk dari acara dhahar kembul.
Dan Alhamdulilah Lancar semua. Amin
[Ternyata jurnal ini kesimpan lama di Draft]
sekarang dah ada hasilnya lom ?
ReplyDeleteHehehe masih proses bang... doakaan saiyah ^^
ReplyDeletePanggiih ..
ReplyDeleteVidi aldiano akakakaa
ReplyDeletewaaaa...jadi pengin..
ReplyDelete