Berawal dari bolak balik jogja solo, selalu membuatku senang sensasi naik kereta Prambanan Exspres (Pramex) hari sabtu sore. Karena aku sering ketinggalan jadwal kereta, dan gaya standing alias berdiri goyang kanan goyang kiri mengikuti irama jalan kereta, apalagi yang lagi moment yang pas bagi yang sedang berpacaran suatu pandangan yang gak asing kalo pas gaya standing tepat di samping kanan, yaa tangan tangan diatas berpegangan ..... sebelah kiri sekotak kardus diduduki pemiliknya, depan ku cowok memakai headset sedang asyik kepalanya manggut manggut mengikuti musik, sedangkan aku berdiri bersandar pada tiang aluminium penyangga sebelah pintu ...

"klinting..klinting" bunyi bel trolly makanan dan minuman didorong dijajakan oleh petugas kereta, dan aku harus bergeser di ikuti penumpang lainnya memberi jalan. lumayan berdiri 1 jam, biasanya selain dapat tempat duduk aku juga duduk dibawah kalo dikasih koran seseorang, hmm maklum jarang bawa koran bekas buat duduk walaupun kereta penuh.
Sampai solo pukul 18.30wib turun di stasiun balapan ini yang aku tunggu sebuah tontonan seperti Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia, kesamaannya ada kelompok keroncong mengadakan pertunjukan di stasiun kereta api solo, menyenandungkan lagu lagu keroncong tempo dulu, menyenangkan, menenangkan, keklasikannya membuatkuku bangga dan memang harusnya kita mengusung budaya sendiri, siapa lagi yang akan menjaga kalau bukan kita kita generasi muda....

Malam itu ada seorang bapak-bapak dari jakarta tertegun meminjam mic dari penyanyi "saya senang stasiun ini lain dengan nuansa jawa kental, keroncong" ucapnya, dan request 1 buah lagu "Di bawah sinar bulan purnama" musik dimainkan dengan ukulele yang berbunyi crong crong, gitar akustik sebagai gitar melodi, biola, flut, selo, betot, kontrabas.
Pikiranku mencoba untuk mengingat artikel yang memuat sosok seorang warga negara asing Inggris lebih tepatnya yang menyukai musik keroncong, langgam jawa, gamelan dan jatuh cinta pada kota Solo, pada penampilanThe Asia Pacific Weeks 2009 di Konzerthaus, Berlin, Jerman, Rabu (7/10) dia menyayikan ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama”...yeah aku ingat dia bernama "Joanna Dudley" dia anak didikan Waldjinah. Setelah mencari tahu, perempuan kelahiran London, Inggris, ini menemukan nama Waldjinah, maestro keroncong asal Solo, Jawa Tengah. Tanpa berpikir panjang, dia berupaya menghubungi Waldjinah. Gayung bersambut, keinginan Joanna untuk belajar keroncong diterima Waldjinah.
”Saya rasa keroncong adalah musik terindah. Pertama kali mendengarnya beberapa tahun lalu, langsung membuat saya jatuh cinta dan ingin belajar menyanyikannya,” kata Joanna.

Joanna mengisahkan, dia mendengar lagu keroncong saat berada di Adelaide, Australia, sekitar lima tahun lalu. Selain sering didendangkan di konser musik lokal di kampus oleh mahasiswa, ternyata banyak penyanyi dan musikus keroncong asal Indonesia yang diundang ke Australia. Mereka menjadi bintang tamu pertunjukan atau sebagai pengajar. Berawal dari sini, Joanna makin tertarik pada keroncong dan berniat belajar dari ahlinya.
Ini baru salah satu dari sekian kebudayaan yang ada di negara tercinta Indonesia yang juga di cintai oleh negara lain dan memiliki beraneka ragam kebudayaan yang indah, memukau, serta sakral.
lagu dibawah sinar bulan purnama selesai disenandungkan, 'drerret....dreeereeet..." Hendphone ku bergetar telepon dari saudaraku yang telah menjemputku, dan aku harus berjalan keluar stasiun meninggal kan kelompok keroncong,...musik crong..crong dan betot terdengar smp di ruas jalan....Hhmmm...sampai jumpa besok minggu sore aku akan kembali ke stasiun ini untuk kembali ke jogja, dan weekend berikutnya 'gumamku'
*Bersama Joanna keroncong mendunia:kompas:290909
"klinting..klinting" bunyi bel trolly makanan dan minuman didorong dijajakan oleh petugas kereta, dan aku harus bergeser di ikuti penumpang lainnya memberi jalan. lumayan berdiri 1 jam, biasanya selain dapat tempat duduk aku juga duduk dibawah kalo dikasih koran seseorang, hmm maklum jarang bawa koran bekas buat duduk walaupun kereta penuh.
Sampai solo pukul 18.30wib turun di stasiun balapan ini yang aku tunggu sebuah tontonan seperti Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia, kesamaannya ada kelompok keroncong mengadakan pertunjukan di stasiun kereta api solo, menyenandungkan lagu lagu keroncong tempo dulu, menyenangkan, menenangkan, keklasikannya membuatkuku bangga dan memang harusnya kita mengusung budaya sendiri, siapa lagi yang akan menjaga kalau bukan kita kita generasi muda....
Malam itu ada seorang bapak-bapak dari jakarta tertegun meminjam mic dari penyanyi "saya senang stasiun ini lain dengan nuansa jawa kental, keroncong" ucapnya, dan request 1 buah lagu "Di bawah sinar bulan purnama" musik dimainkan dengan ukulele yang berbunyi crong crong, gitar akustik sebagai gitar melodi, biola, flut, selo, betot, kontrabas.
Pikiranku mencoba untuk mengingat artikel yang memuat sosok seorang warga negara asing Inggris lebih tepatnya yang menyukai musik keroncong, langgam jawa, gamelan dan jatuh cinta pada kota Solo, pada penampilanThe Asia Pacific Weeks 2009 di Konzerthaus, Berlin, Jerman, Rabu (7/10) dia menyayikan ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama”...yeah aku ingat dia bernama "Joanna Dudley" dia anak didikan Waldjinah. Setelah mencari tahu, perempuan kelahiran London, Inggris, ini menemukan nama Waldjinah, maestro keroncong asal Solo, Jawa Tengah. Tanpa berpikir panjang, dia berupaya menghubungi Waldjinah. Gayung bersambut, keinginan Joanna untuk belajar keroncong diterima Waldjinah.
”Saya rasa keroncong adalah musik terindah. Pertama kali mendengarnya beberapa tahun lalu, langsung membuat saya jatuh cinta dan ingin belajar menyanyikannya,” kata Joanna.
Joanna mengisahkan, dia mendengar lagu keroncong saat berada di Adelaide, Australia, sekitar lima tahun lalu. Selain sering didendangkan di konser musik lokal di kampus oleh mahasiswa, ternyata banyak penyanyi dan musikus keroncong asal Indonesia yang diundang ke Australia. Mereka menjadi bintang tamu pertunjukan atau sebagai pengajar. Berawal dari sini, Joanna makin tertarik pada keroncong dan berniat belajar dari ahlinya.
Ini baru salah satu dari sekian kebudayaan yang ada di negara tercinta Indonesia yang juga di cintai oleh negara lain dan memiliki beraneka ragam kebudayaan yang indah, memukau, serta sakral.
lagu dibawah sinar bulan purnama selesai disenandungkan, 'drerret....dreeereeet..." Hendphone ku bergetar telepon dari saudaraku yang telah menjemputku, dan aku harus berjalan keluar stasiun meninggal kan kelompok keroncong,...musik crong..crong dan betot terdengar smp di ruas jalan....Hhmmm...sampai jumpa besok minggu sore aku akan kembali ke stasiun ini untuk kembali ke jogja, dan weekend berikutnya 'gumamku'
*Bersama Joanna keroncong mendunia:kompas:290909
eh..yang pengalaman naek kereta kan Mbak Leny toh? bukan penulis tentang jeung Joanna itu?
ReplyDeletePernah glantungan di pramex euy.
ReplyDeleteAsyiknya lg. Tas bwan saya dicangklong adith dng pedenya hehehe
Bi... Seksi. Kapan2 meromantis sore2 sambil nongkrong ning Balapan yaa.
ReplyDeleteyup aku "Leny"
ReplyDeletepriikiiitiiiiww...adit maning adit maning yang mana seh orangnya pon??
ReplyDeletehu uh sip sip..attur jadwal, aku kae pan sms we to bi lagu2ne yuuh sexii..
ReplyDeleteSek tak delik ne hi3
ReplyDeletesayang yah..sekarang keroncong hanya jadi hiburan kaki lima
ReplyDeletepadahal kalo gak salah, dulu keroncong malah jadi hiburan primadona di kalangan ningrat...
aku suka keroncong juga,,,
ReplyDeletepernah kenalan ama orang belgia dia juga suka keroncong
yuup betul, knp justru orang luar negeri yang menyukai keroncong, langgam jawa, sedangkan kita kita kebanyakan menyukai musik hip hop, R&B, dan musik Jazz, justru kebalikannya yaa...*Tragis*, mulai untuk lebih mencintai musik dalam negeri ...mari mari menyanyikan lagu Keroncong "Crong..crong.."
ReplyDeletekencrung kencrung...
ReplyDelete